Search This Blog

Wednesday, February 25, 2015

Jangan Salahkan Aku



Jasadku memeluk bulan, tapi tidak dengan jiwaku. Malam selalu menyelimuti, tapi tidak dengan hatiku. Hatiku selalu merindukan siang, dan mentari yang selalu bersinar memberikan kehangatannya tanpa pamrih.


Perkenalkan namaku Julia, Usia 31 Tahun. Aku ibu dari seorang putra usia 4 tahun. Aku juga seorang isteri dari suami yang tampan, mapan, dan berkedudukan. Hidupku berkecukupan. Apa saja yang aku pinta dan apa yang selalu aku inginkan bisa aku dapatkan. Liburan, jalan-jalan ke luar negeri kapanpun bisa ku lakukan. Semua orang menganggap hidupku sempurna. Banyak yang merasa iri terhadapku. Tak ada suatu apapun yang kurang dengan kehidupanku. Rumah dan mobil mewah, anak yang lucu, dan suami yang bertanggunjawab dengan penghasilan yang menggiurkan bagi setiap perempuan. 

Memang, seperti pepatah bilang, Jangan melihat sesuatu dari bungkusnya. Apa yang nampak sempurna di luar tak sesempurna apa yang ada di dalam. Begitu juga dengan kehidupan rumah tanggaku. Sebagian besar orang mengira aku adalah perempuan yang paling beruntung di dunia dengan segala apa yang aku miliki. Namun tidak demikian dengan yang aku rasakan. Aku justru merasa menjadi perempuan yang paling menderita, kesepian dan nyaris tak bahagia. Semua fasilitas yang aku dapatkan dari suami tak lantas bisa membendung rasa kerinduanku akan perhatian seorang laki-laki. Dalam hal ini aku berharap banyak dari laki-laki yang kini jadi suamiku.  Aku butuh perhatian, butuh teman curhat, butuh teman jalan-jalan, butuh tempat bersandar saat aku membutuhkan sandaran, saat aku mendapatkan masalah dalam pekerjaanku, dalam keseharianku. Aku butuh orang yang bisa mendengarkan ceritaku, aku butuh seseorang yang bisa aku mintai solusi untuk setiap masalahku. Tapi semua itu nyaris tidak aku dapatkan. Suamiku yang hebat dan memiliki kedudukan seolah menjadikanku isteri kedua setelah pekerjaannya. Ia seolah lebih peduli kepada pekerjaannya dibandingkan kepada keluarganya. Jika aku marah menuntut waktunya maka ia akan meneriakiku menyebutku perempuan yang tak bisa bersyukur atas apa yang ia berikan kepadaku, atas semua kerja kerasnya. Jika aku menangis mengeluhkan betapa berat nya masalah yang aku hadapi maka ia akan menyemangatiku untuk tidak cengeng dan memintaku untuk kuat, mandiri dan menyelesaikan masalah sendiri. Jika aku minta saran atau solusi, ia memintaku menungu waktu luang nya yang entah kapan… Aaargh… pokoknya aku merasa aku dan suamiku semakin jauh, ia tak mengerti aku, dan akupun semakin merasa tidak mengenalinya. Bayangkan saja, setiap hari kami hanya bercakap-cakap seperlunya. Tak sampai 5 kalimat dalam 24 jam. Aku tak tahan. Mulutku yang selalu ingin bercerita rasanya tak bisa jika harus menungu berhari-hari untuk menceritakan sesuatu hal penting kepada orang terdekat, ya, kepada suamiku. Ketika aku butuh solusi, aku masih harus menunggu berhari-hari untuk bisa membicarakan masalahku. Aku, hidupku rasanya sama seperti pepatah ini, ‘Hidup segan mati tak mau’. Hampa, tak berwarna. Walaupun aku bisa pergi ke manapun sejauh apa ku mau tetap saja tak pernah ada rasa puas dalam hatiku. Kosong…

Suamiku adalah orang baik-baik. Berhati baik, pekerja keras, penurut, cerdas, memiliki banyak potensi. Ia adalah andalan perusahaannya. Seolah perusahaannya akan menadi pincang dan bangkrut jika ia tak ada di sana. Tak ada sesiapapun yang meragukan kehebatannya dalam bekerja. Apapun bisa ia handel. Ia mapan, mengagumkan. Namun siapa sangka, kesibukannya yang begitu banyak itu membuatku merasa terasingkan, terlupakan. Aku merasa tak punya teman, merasa tak memiliki tempat mengadu, tempatku pulang, dan mendapatkan kedamaian. Aku benar-benar merasa sendiri. Suamiku hanyalah tempat ku meminta uang. Uang belanja, uang jalan-jalan, uang untuk putraku jajan dan beli mainana, uang untuk biaya sekolah, uang untuk belanja kosmetik atau ke salon. Tapi sungguh kebahagiaanku tak terbeli oleh itu semua. Kerinduanku tak terbayar pun tak terobati dengan uang sekoper. Aku merana, hatiku terkoyak ketika aku melihat beberapa pasangan suami isteri bergandengan tangan dengan mesranya. Berjalan-jalan dan saling membantu bergantian mengasuh buah hatinya. Sang pria tampak lebih peduli dan melindungi. Dengan kehati-hatian menjaga agar isterinya tidak sampai kecapean. Ah… Aku benar-benar iri hati. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Haruskah aku merebut mereka suami-suami yang memiliki perhatian lebih dan punya banyak waktu luang untuk keluarganya? Haruskah aku melakukannya demi sebuah pengertian, dan demi seorang teman bercerita tentang kegundahan hati? Tuhan… katakan, beri aku jawaban, kemanakah gelisah ini harus aku bawa pergi, dan aku obati?

Rumah kami, adalah rumah yang cukup besar. Mewah dengan desain minimalis. Seandainya saja hati ku selalu sejuk maka rumah ini akan benar-benar menjadi syurga untuk keluarga kecil kami. Tapi nyatanya tidak untukku. Untuk aku dengan cita-citaku tentang rumah itu. Tentang keinginannku menenai para penghuninya. Tak ada kehangatan. Dingin, sedingin es. Tak ada gelak tawa, yang ada hanya kesunyian dan dengkur kelelahan di setiap menjelang tengah malam. Dan kesibukan yang teramat sangat melebihi kesibukan Jakarta senin pagi setiap jam 5 subuh. Halaman yang luas, dengan taman yang ditata rapi oleh tukang kebun tampak asri dan menenangkan. Tapi tidak untukku. Semua itu tak ubahnya hanya warna-warna rumput yang hijau, daun yang rindang, bunga yang bermekaran, tak lebih dari itu. Kolam renang di halaman belakan, tak lagi menggoda walau airnya selalu jernih. Malas rasanya aku menceburkan diri ke sana. Aku hanya suka duduk  dan bersandar di kursi malas yang menghadap ke kolam itu sambil memikirkan apapun yang aku rasa telah hilang, dan apapun yang aku cita-citakan tentang kehidupan keluargaku. Seperti saat ini. Aku duduk termangu, bermalas-malasan di kuursi ini. Mataku memandang sekeliling, kosong. Hanya ingatanku yang berkecamuk dan hati yang bergejolak. Berfikir dan mencari tahu bagaimana carnya aku keluar dari belenggu sepi ini? Bagaimana caranya aku lari dari goa gelap dengan jeruji besi yang kokoh. Hatiku ingin bebas, aku butuh teman, aku butuh kawan, butuh partner untuk berbagi apapun yang aku rasakan. Membagi apapun kisah yang aku alami, dan bersamasama mengasuh dan membesarkan anak-anak ku sampai mereka dewasa. Ah… aku tak tahu bagaimana caranya. Rasanya semua cara telah aku lakukan untuk memohon sedikit waktu luangnya. Meminta nya untuk menyempatkan diri mendenarkan ceritaku. Tapi apa mau dikata lagi-lagi aku harus mengalah dan terpaksa menerima penjelasannya bahwa pekerjaan kantor menumpuk setinggi gunung himalaya. Kalau sudah begitu rasanya hatiku mati, aku tak berani berharap lagi ia ada untukku. 

“Hey!, Ngelamun aja!” seseoramg mengagetkanku… membuat lamunanku buyar semua…



Share/Bookmark

3 comments: