Mak, di luar
memang hujan tidak begitu deras. Tapi hujan di dalam hatiku sudah sejak beberapa
hari deras melulu. Hatiku basah melulu. Dan sudut mataku berembun melulu.
Mak, jika boleh
aku mencari tahu mengapa dulu Emak tidak menyekolahkanku ke pesantren yang
mempelajari agama dengan benar. Seperti mereka yang kini sudah tumbuh dewasa
dengan pegetahuan agama mereka yang hebat. Dan tahukah Emak, andai sejak dulu
aku salihah maka semua orang akan mengerti. Semua orang akan tahu mengapa aku
begini. Tidak akan seperti hari ini, aku dianggap asing karena aku tiba-tiba
memilih jalan Allah.




Kamu
yang di sana mungkin sudah lupa. Tentang kejadian di suatu sore yang muram.
Langit gelap pertanda akan turun hujan. Kau yang seharusnya mengingatkanku
untuk segera pulang, malah terlihat begitu senang melihat awan yang semakin
gelap. Apalagi ketika rintik air sudah mulai jatuh membasahi bumi, dedaunan,
dan bahkan kacamataku. Aku begitu ingat, saat kau mentertawakanku, saat melihat
kacamataku basah. Kau bilang seharusnya terpasang wiper seperti di kaca mobil. Ah,
kau tega sekali kepadaku. Jaketmu yang berwarna hitam pun perlahan mulai basah
terkena tetesan gerimis. 








